ADAP KETIKA BERDO'A
2. Berdoa
لايكن تأخر امد العطاء مع الإلحاح موجبا ليأسك فهو ضمن لك الإجابة فيما
يختاره لك لافيما تختاره لنفسك وفي الوقت الذي يريد لا في الوفت الذي
لاتريد
"Janganlah ditangguhkannya pemberian Allah padahal engkau telah
memintanya dengan sangat menjadi penyebab keputus-asaanmu.karena Allah
menanggung ijabah do'amu dalam bingkai pilihan-NYA bukan dalam bingkai
pilihanmu.dan pada waktu yang di tentukan-NYA bukan pada waktu yang
engkau tentukan"
Setelah seorang hamba melakukan asbab-asbab dan meninggalkan
aturan-aturan serta bertawakkal kepada Allah swt atas hasil-hasil asbab
yang dia lakukan, maka dia dituntut untuk berdo'a kepada Allah swt. Ini
merupakan bukti bahwa dia adalah mahluk yang butuh kepada Khaliq-nya.
Terkadang ada orang yang sudah berdo'a dengan sungguh-sungguh namun dia
tidak mendapatkan apa yang dia inginkan dalam do'anya. Sehingga dia
menyangka bahwa Allah tidak menepati janjinya. Prasangka ini merupakan
kesalahan yang sangat fatal dan tidak bisa ditolelir lagi. Hal ini tak
lain karena mayoritas orang hanya meminta dengan mulutnya tanpa memahami
makna dari do'a dan syarat-syaratnya.
Meminta (thalab) belum bisa di katakan do'a, karena diantara do'a dan
thalab terdapat perbedaan yang sangat besar. Thalab adalah sifat dari
suatu lafadz yang diucapkan oleh orang yang meminta. Sedangkan doa
adalah suatu ibarat tentang keadaan dan perasaan hati orang yang
meminta.
Sebelum berdo'a seorang hamba harus mengetahui persyaratan-persyaratan
yang harus dipenuhi agar do'anya bisa dikabulkan. Oleh karena itu, dia
harus mengetahui dua persyaratan sebagai berikut:
1.Sadarnya hati, rendah diri dan tawadlu' di hadapan Allah swt ketika berdo'a.
Apabila hati belum sadar dan belum ada perasaan rendah diri serta
tawadlu' kepada Allah swt, sedangkan mulut hanya mengucapkan do'a dengan
kalimat-kalimat yang telah di hafalkan (padahal hatinya lupa dan
pikirannya melayang), maka permintaan ini belum bisa dikatakan do'a
melainkan hanya sebuah thalab. Dalam perspektif lain hanya disebut do'a
secara lughawi (bahasa) yakni do'a yang dikehendaki oleh ahli lughat
Arab ketika berbicara tentang kalam khabar dan kalam insya'. Oleh karena
itu, ketika seseorang berdo'a dengan hati yang tertutup dan tidak ada
rasa tawadlu' maka bagaimana mungkin do'a tersebut dikabulkan?
Fenomena lain yang banyak dijumpai adalah seseorang yang sedang memiliki
impian-impian dan harapan-harapan duniawi. Dia yakin bahwa
impian-impian tersebut akan terwujud ketika dia berdo'a dengan do'a-do'a
khusus. Maka dia pun berusaha mencari do'a-do'a tersebut dari
kitab-kitab para ulama, para santri dan sebagainya. Setelah dia
menemukannya maka dia akan menghafalkannya. Do'a tersebut dia ucapkan
berkali-kali, berhari- hari bahkan sampai berminggu-minggu padahal
hatinya masih kosong, berpaling dari perintah-perintah dan wasiat-wasiat
Allah swt. Akhirya setelah menunggu sekian lama, teryata tidak ada
satupun permintaannya yang dikabulkan oleh Allah swt. Akibatnya, diapun
mengklaim bahwa Allah swt tidak menepati janjinya. Ini adalah salah satu
kebodohan, karena dia tidak mengetahui makna do'a yang sebenarnya.
2.Orang yang berdo'a harus bertaubat dengan taubat nasuha dari semua
yang pernah ia lakukan dan menjadikan taubat ini sebagai penolong
do'anya.
Orang yang meminta kepada Allah swt, padahal dia belum bertaubat dan
masih melakukan maksiat adalah orang yang tidak sehat akalnya dan pasti
do'anya tidak akan dikabulkan.
Hal ini bisa kita analogikan dengan keadaan yang banyak kita jumpai di
masyarakat. Contoh kecilnya adalah sebagai berikut: Ada seseorang yang
mengajukan proposal dan meminta bantuan kepada salah satu pejabat yang
ada di kotanya, padahal orang tersebut masih memiliki permusuhan dengan
sang pejabat. Bila dia langsung mengajukan proposal dan meminta bantuan
tanpa meminta maaf terlebih dahulu, pasti sang pejabat tidak akan
menyetujui proposal dan permintaaanya.
Ini adalah contoh kecil hubungan yang terjadi diantara sesama manusia
yang mana status mereka adalah mahluk Allah swt. Lalu bagaimana jika hal
ini terjadi antara hamba yang hina dengan Dzat yang' menguasai dan
mengaturnya ?
Allah swt telah memerintah hamba-Nya untuk tidak mendustakan-Nya tetapi
dia tidak memenuhi perintah tersebut. Lalu Allah swt menyuruhnya untuk
bertaubat, namun dia juga tidak mau bertaubat, dalam keadaan seperti ini
dia meminta kepada Allah swt, maka tidak salah jika Allah swt tidak
mengabulkan do'anya. Akhirya dia mengklaim bahwa Allah swt tidak
memenuhi janji-Nya. Hamba seperti ini adalah hamba yang tidak berakal
dan tidak memiliki adab terhadap sang khaliq, sebab permintaan yang dia
ajukan hanyalah thalab dan tidak bisa dikatakan do'a.
Seseorang yang sudah melakukan 2 (dua) syarat taubat di atas, maka
ketika dia berdo'a untuk dirinya sendiri pasti do'anya akan di kabulkan.
Namun ketika dia berdo'a untuk masyarakat banyak, maka seringkali
do'anya tidak dikabulkan. Hal ini dikarenakan ketika dia berdo'a untuk
dirinya sendiri maka sangat mudah baginya untuk bertaubat dan berhenti
melakukan maksiat. Namun ketika dia berdo'a untuk masyarakat banyak maka
syarat ini sulit untuk diwujudkan, karena di dalam masyarakat masih
terdapat orang-orang yang belum bertaubat. Sedangkan terkabulnya do'a
untuk masyarakat itu tergantung pada taubatnya orang yang berdo'a dan
taubatnya masyarakat yang di do'akan.
Maka dari itu jika seseorang berdo'a untuk masyarakat agar Allah
menghilangkan kesusahan dan kemiskinan yang menimpa mereka hendaknya
juga mengingatkan agar mereka bertaubat dari dosa-dosanya. Bila mereka
bisa bertaubat dengan taubat nasuha, maka do 'a pasti akan terkabulkan.
Dan sebaliknya bila mereka belum bisa bertaubat dengan nasuha, maka
janganlah berharap do'anya akan dikabulkan.
Ketika syarat-syarat do'a di atas sudah dipenuhi maka Allah swt pasti
akan mengabulkan do 'a tersebut. Tetapi jangan menyangka bahwa
terkabulnya do'a (istijabah) itu sama persis dengan apa yang diharapkan.
Karena istijabah yang dijanjikan oleh Allah swt kepada hambanya itu
memiliki makna yang lebih luas dari apa yang diharapkan.
Makna Istijabah adalah Allah swt mewujudkan tujuan dari permintaan
seseorang dan bukan berarti tujuan tersebut bentuknya sama persis dengan
apa yang diharapkan. Contohnya ada seseorang yang meminta suatu
pekerjaan kepada Allah swt karena dia menyangka bahwa pekerjaan tersebut
bisa menyampaikan tujuan dan menjadi hal yang terbaik baginya. Akan
tetapi Allah swt mengetahui bahwa pekerjaan yang dia inginkan itu tidak
akan mendatangkan kebaikan bahkan bisa menyebabkan kejelekan. Lalu Allah
swt mengganti pekerjaan tersebut dengan hal lain yang lebih baik dan
bisa menyampaikan pada tujuan yang dia harapkan.
Allah swt. berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ
تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا
وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah
sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia
amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal
ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui."
(QS. al-Baqarah [02]: 216)
Makna ini diisyaratkan oleh Ibn 'athaillah di dalam hikmahnya:
فهو ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك لافيما تختاره لنفسك
Artinya: "Karena Allah pasti akan mengabulkan do'amu sesuai dengan kehendak- Nya, bukan sesuai dengan keinginanmu."
Bila kita amati, hal-hal seperti ini banyak terjadi di kehidupan kita.
Banyak orang yang mengharapkan suatu pekerjaan dan menyangka bahwa
pekerjaan tersebut bisa mewujudkan impian-impian dan cita-citanya.
Sehingga diapun berdo'a kepada Allah agar memberikan pekerjaan tersebut.
Namun setelah meminta dengan waktu yang lama ternyata yang dia harapkan
tidak kunjung tiba, sampai-sampai dia menyangka bahwa Allah swt tidak
mengabulkan do'anya. Tetapi pada akhirnya Allah swt menciptakan
asbab-asbab lain yang bisa menyampaikan kepada cita-citanya. Ketika dia
berfikir dan mengamati asbab-asbab tersebut maka dia tahu bahwa
asbab-asbab itu lebih baik dari pada pekerjaan yang dia inginkan
sehingga akhirya dia memuji Allah swt atas nikmat tersebut. Nikmat ini
adalah anugerah yang besar dari Allah swt dan merupakan sebuah
keajaiban, karena sebelumnya dia memandang bahwa perkara yang dia
harapkan itu adalah yang terbaik. Namun pada hakikatnya perkara tersebut
berakibat buruk dan akhirya diganti oleh Allah swt dengan hal yang
lebih baik dan berguna baginya.
Sebuah kesalahan lagi yang terjadi pada sebagian orang adalah putus asa
di saat berdo'a. Ketika seseorang sudah berdo'a dan memenuhi
syarat-syaratnya, namun setelah menunggu beberapa minggu do'anya tidak
juga dikabulkan. Maka hal ini menyebabkan dirinya berputus asa untuk
berdo'a. Sehingga hati kecilnya berkata:"Aku sudah berdo'a dengan
sungguh-sungguh namun belum juga dikabulkan.".
Ini adalah sebuah kebodohan yang menyelimuti kebanyakan orang yang
ditimbulkan oleh rasa sangat senang pada impian-impian dan
harapan-harapan yang mereka cita-citakan.
Bentuk kesalahan ini terjadi karena mereka menyangka bahwa do'a yang
telah diperintahkan oleh Allah swt adalah sebagai wasilah (alat) untuk
sampai pada ghayah (tujuan). Jadi do'a hanya dia gunakan ketika
membutuhkan sesuatu atau tertimpa musibah. Dan bila hajatnya telah
dipenuhi atau musibahnya telah hilang, maka dia tidak butuh berdo'a
lagi.
Asumsi yang keliru ini akan membawa seseorang dalam kesedihan ketika dia
telah berdo'a dan dalam waktu yang dia harapkan tenyata do'anya belum
dikabulkan. Sehingga dia yakin bahwa do'a yang telah dia ucapkan
berkali-kali tidak ada faedahnya sama sekali. Hal inilah yang
menyebabkan dia putus asa dalam berdo'a. Ini semua terjadi karena dia
memandang bahwa do'a hanyalah sebatas wasilah. Padahal sebenamya esensi
dari do'a adalah sebuah ghoyah tersendiri.
Manusia adalah seorang hamba yang dimiliki oleh Allah swt. Oleh karena
itu, setiap detiknya pasti dia membutuhkan Tuhannya dalam menghadapi
semua problem kehidupan yang bermacam-macam. Di antara tugas hamba yang
terpenting adalah memperlihatkan 'ubudiyyahnya kepada Allah swt. Hal ini
biasanya dilakukan dengan cara membuktikan bahwa dia sangat butuh
kepada Allah dan dengan memperlihatkan bahwa kehidupannya,
kebahagiaannya itu tergantung pada penjagaan Allah swt. Perwujudan
ubudiyyah ini biasa dilakukan dengan berdo' a baik dia berasumsi bahwa
do' anya akan berpengaruh ataupun tidak. Allah swt berfirman:
وقال ربكم ادعوني استجب لكم. ان الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين
Artinya: "Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan
Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri
dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."
(QS. Al-Mu'min [40]: 60)
Ayat tersebut mengandung perintah kepada manusia agar memiliki sifat
'ubudiyyah kepada Allah swt, yaitu pada kalimat أدعوني Perintah ini
adalah perintah yang mutlak tanpa ada qayyid tertentu dan tidak
dihubungkan dengan syarat. Selain itu ayat di atas juga mengandung janji
yang menunjukkan sifat rahmat Allah swt kepada hambanya dengan memberi
anugerah yang tidak terhitung yaitu pada kalimatأستجب لكم
Antara dua hal yang dikandung ayat tersebut tidak ada hubungan yang
saling mengikat. Maknanya, janji tersebut timbulnya bukanlah dari doa
tetapi dari rahmat Allah swt. Namun banyak orang yang mengira bahwa
ketika dia berdo'a, maka dia telah membeli istijabah. Rasulullah saw.
bersabda:
عن أبي هريرة أن رسول الله صلي الله عليه وسلم قال : يستجاب لأحدكم مالم يعجل فيقول قد دعوت فلم يستجب لي
Artinya:"Salah satu diantara kalian pasti dikabulkan do'anya selama
tidak tergesa- gesa. Dia berkata: saya telah berdo'a tapi belum juga
dikabulkan."(HR. Bukhari).
Maksud dari hadis di atas adalah seseorang akan dikabulkan do'anya
selama dia tidak menyangka bahwa dia memiliki hak yang harus dipenuhi
oleh Allah swt yaitu istijabah dan selama hatinya tidak berkata: "saya
sudah berdo'a, tetapi kenapa saya belum memperoleh hak saya yang berupa
istijabah". Jadi 'ubudiyyah (do'a) dan istijabah adalah dua perkara yang
berbeda dan tidak ada keterkaitan. Do'a adalah ibadah yang wajib
dilakukan oleh seorang hamba sebagai perwujudan 'ubudiyyah di hadapan
Allah swt, tanpa memandang dari hasil yang dia dapat dari do'a tersebut.
Rasulullah saw. bersabda:
الدعاء هو العبادة
Artinya: "Do'a adalah ibadah." (HR Ahmad).
Sedangkan istijabah adalah anugerah dan karunia dari Allah swt, bukan hasil dari do'a.
Jalan yang wajib ditempuh oleh seorang Muslim adalah menunjukkan bahwa
dia butuh kepada Allah swt dalam setiap keadaan. Dia juga harus
memperlihatkan hal tersebut dengan tawadlu' dan rendah hati tanpa
memandang hasil-hasil yang akan di peroleh. Dan dia harus yakin bahwa
dengan sifat rahmat dan ihsan-Nya Allah akan mengabulkan do'a-do'anya.
Adapun hikmah diakhirkannya istijabah adalah melatih seorang hamba untuk
memahami makna yang terkandung di dalam ayatأدعوني أستجب لكم , dan
supaya mengerti bahwa istijabah itu bukanlah hal yang wajib ketika
seseorang berdoa, melainkan istijabah adalah murni anugerah Allah swt.
Sehingga do'a dan penantian istijabah dengan kesabaran dan tenang
menjadi bagian dari ibadah. Bahkan bisa menjadi kunci dan ruh ibadah.
Rasulullah saw. bersabda:
عن انس عن النبي صلي الله عليه وسلم (( إنتظار الفرج عبادة ))
Artinya: "Menanti kelapangan adalah ibadah" (HR Ibn Abi Dunya dan al-Baihaqi).
Penjelasan di atas adalah makna dari bagian akhir dalam hikmah ini yaitu:
وفي الوقت الذي يريد لا في الوفت الذي لاتريد
Artinya: "Allah akan mengabulkan do'a pada waktu yang dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan.".