Senin, 14 Mei 2012


Bismillahirrahmanirrahiim

Membaca Al-Qur’an Dapat Mencerdaskan Otak

Menurut hasil penelitian ternyata membaca Al-Qur’an sehabis maghrib dan sesudah subuh itu dapat meningkatkan kecerdasan otak sampai 80 % , karena di sana ada pergantian dari siang ke malam dan dari malam kesiang hari di samping itu ada tiga aktifitas sekaligus , membaca , melihat dan mendengar .

“Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. Di antaranya, menyedikitkan makan, membiasakan melaksanakan ibadah salat malam, dan membaca Al-Qur’an sambil melihat kepada mushaf”. Selanjutnya ia berkata,… “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Al-Qur’an”.

Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.

Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.

Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Qur’an terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang men dengarkannya.
Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita.

Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur’an.

Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an.

Al-Qur’an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 2009. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.

Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Qur’an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur’an memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).
Mahabenar Allah yang telah berfirman, “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”(Q.S.7:204).

Atau,

“Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram”(Q.S. 13: 28).

Mari bersama sama kita senantiasa mendawamkan membaca Al Quran disetiap waktu dan setiap kesempatan yang ada, insya Allah manfaat buat kita semua

Moga Manfaat
Insya Allah
Bismillahirrahmanirrahim

♥..Doa yang Dikabulkan Allah SWT..♥

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saudaraku...

“Kenapa sih doa ku ngga dikabulkan? katanya Allah Maha Mengabulkan? tapi apa buktinya?”

“Padahal aku dah berdoa dan berusaha, kenapa tidak dikabulkan?”

Pengabulan do’a ada yang cash (langsung/kontan).
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan do’amu.”
(QS. Al-Mu’min 40:60)
contohnya, saat tahajud kita minta jodoh yang shaleh. Ternyata, siang harinya ada yang melamar dan besoknya menikah. Inilah do’a yang cash (kontan).

Ada juga do’a yang delayed (tertunda / ditangguhkan). Misalnya, hari ini kita berdo’a, tetapi dikabulkannya baru lima tahun kemudian. Inilah do’a yang delayed (ditangguhkan). Bahkan ada juga do’a yang pengabulannya tidak di dunia, tetapi menjadi deposito amal shaleh kita di akhirat.
Ini juga merupakan bentuk pengabulan do’a yang delayed (ditangguhkan).

Allah SWT...Allah SWT...Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada seorang muslim yang menghadapkan mukanya kepada Allah untuk berdo’a, kecuali Allah akan mengabulkannya (memberikannya). Kadang-kadang, pengabulannya dipercepat (cash) dan kadang diperlambat/ditanggauhkan (delayed).” (HR. Ahmad dan Hakim)

Prinsip-prinsip di atas harus dipegang teguh agar kita tidak berprasangka buruk kepada Allah swt. dan tidak putus asa dari rahmat dan karunia-Nya.
Adapun cara agar do’a kita lebih berpeluang untuk dikabulkan adalah sebagai berikut:

Awali Do’a dengan Asmaul Husna.
--♥♥♥--

Berdoa...Berdoa...“Allah mempunyai Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu…” (QS. Al-A’raf 7:180) Asmaul Husna artinya nama-nama Allah yang baik, seperti Ar-Rahman (Maha Pemurah), Al Hakiim (Maha Bijaksana), Ar-Rahiim (Maha Penyayang), Al Kariim (Maha Dermawan), Al ‘Aliim (Maha Mengetahui), dan lain-lain.

Merujuk pada ayat ini, ketika kita akan meminta sesuatu pada Allah swt, maka awali dengan asmaul husna yang kita hafal, misalnya Ýa Rahmaan, Ya Rahiim, dan lain-lain. setelah itu baru kita berdoa.

Namun, alangkah baiknya kalau Asmaul Husna yang kita baca itu ada korelasi (hubungan) dengan permintaan kita. Misalnya kalau minta ilmu, awali dengan Ya ‘Aliim (WahaiYang Maha Tahu), Ya Hakiim (Wahai Yang Maha Bijaksana). Kalau minta ampun, kita awali dengan Ya Ghafuur (Wahai Yang Maha Pengampun), Ya Rahiim (Wahai Yang Maha Penyayang) dan lain-lain.

Ucapkan Kalimah Tauhid setelah membaca Asmuul Husna
--♥♥♥--

Semua makhluk hidup tunduk kepada Allah Swt.. Semua makhluk hidup tunduk kepada Allah Swt.. Kita nyatakan bahwa Allah swt itu Maha Tunggal, Maha Berkuasa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan lain-lain. Adapun Kalimah Tauhid yang sebaiknya kita baca saat berdo’a adalah sebagai berikut, [Allahumma inni as aluka bi anni asyhadu annaka antallahu laa ilaaha illa antal ahadu shamadul ladzi lam yalid wa lam yuulad wa lam yakun lahu kufuwan ahad ]

[Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbaru, Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiir, laa ilaaha illallaahu, walaa haula walaa quwwata illa billaah]

Iringi doa dengan prasangka baik
--♥♥♥--

Berdoa harus diiringi dengan prasangka baik kepada Allah swt. Bahwa Dia akan selalu mengabulkan do’a kita. Apabila do’a belum dikabulkan, kita harus yakin bahwa apa yang kita pinta mungkin menurut Allah swt kurang baik, karena itulah Dia tidak mengabulkan permintaan kita. Atau tanpa kita sadari Allah telah menggantinya dengah yang lebih baik.

Yakinlah, Allah swt hanya akan mengabulkan permintaan yang sekiranya akan menjadi kebaikan untuk diri kita. “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Aku akan mengikuti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdoa kepada-Ku”. (H.R.Bukhari dan Muslim).

Maksudnya, kalau kita menyangka Allah itu Maha Penyayang, maka Dia akan menyayangi kita. Kalau kita menyangka Allah itu akan mengabulkan doa kita, maka Dia akan mengabulkannya selama yang kita mintakan itu akan menjadi kebaikan.

Berdoa dengan hati yang mantap
--♥♥♥--

Berdoa dengan hati yang mantap...Berdoa dengan hati yang mantap...“Wahai manusia, jika kamu memohon kepada Allah ‘azza wa jalla, mohonlah langsung kehadirat-Nya dengan keyakinan yang penuh bahwa doamu akan dikabulkan. Karena Allah tidak akan mengabulkan do’a yang keluar dari hati yang lalai.” (H.R.Ahmad)

Berdoa dengan kerendahan hati
--♥♥♥--

Kalau kita ingin doa kita dikabulkan, kikislah serta kuburlah sifat-sifat sombong atau takabur. Ketahuilah, Allah hanya akan mengabulkan doa orang-orang yang rendah hati.

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas.”
(QS. Al-A’raf,7 : 55)

Selain dengan rendah hati, berdoa sebaiknya dilakukan dengan suara yang lembut, karena Allah itu maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kita tidak perlu berdoa dengan berteriak. Rasulullah saw pernah menegur sejumlah sahabat yang berdoa dengan berteiak-teriak, Sabda Nabi saw., “Hai Manusia, sesungguhnya Dzat yang kamu seru itu tidak tuli dan tidak jauh, sesungguhnya Tuhan yang kamu seru itu ada diantara kamu, bahkan diantara leher kamu !” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Ulangi Permintaan Sebanyak tiga kali Saat berdoa. Rasulullah saw, suka mengulanginya hingga tiga kali. “Nabi saw., apabila berdoa, beliau mengulanginya tiga kali, dan apabila meminta, juga mengulanginya tiga kali.” (H.R.Muslim).

Iringi doa dengan ikhtiar
--♥♥♥--

Doa dan ikhtiar bagaikan dua sisi dari satu mata uang. Keduanya saling melengkapi, tidak bisa dipisahkan. Kalau kita minta ilmu, barengi dengan belajar, minta harta, dampingi dengan usaha, minta sukses dalam karier, iringi dengan kerja keras, minta kesembuhan, ikuti dengan pengobatan dan lain-lain. “…Bekerjalah (berusahalah) kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaan (ikhtiar)mu itu…” (QS. Attaubah 9:105)

Wallahu A’lam.

Janganlah bersedih bila doa kita belum terkabul. Yang pasti jangan menyerah untuk selalu berdoa. Yakinlah bahwa skenario Allah tak pernah salah.

Amin Ya Robbal Alamin

Moga Manfaat
Insya’Allah

Selasa, 08 Mei 2012

 Kunci-Kunci Rizki


         Diantara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah itsighfar (memohon ampun) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan). Untuk itu, pembahasan mengenai pasal ini kami bagi menjadi dua pembahasan.

Pertama : Hakikat Istighfar dan Taubat
Kedua : Dalil Syar'i Bahwa Istighfar Dan Taubat Termasuk Kunci Rizki.


Pertama : Hakikat Istighfar dan Taubat

Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan.

"Artinya : Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya".

Tetapi kalimat-kalimat diatas tidak membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini adalah perbuatan orang-orang dusta.

Para ulama -semoga Allah memberi balasan yang sebaik-baiknya kepada mereka- telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat.

Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan : "Dalam istilah syara', taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna" [Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an, dari asal kata " tauba" hal. 76]

Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menjelaskan :
"Para ulama berkata, 'Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus menyesali perbuatan (maksiat)nya. Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.

Jika taubatnya itu berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat di atas dan Keempat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalasnya atau meminta ma'af kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf" [Riyadhus Shalihin, hal. 41-42]

Adapun istighfar, sebagaimana diterangkan Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah " Meminta (ampunan) dengan ucapan dan perbuatan. Dan firman Allah.

"Artinya : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun" [Nuh : 10]

Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan, memohon ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta" [Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an, dari asal kata "ghafara" hal. 362]

Kedua : Dalil Syar'i Bahwa Istighfar Dan Taubat Termasuk Kunci Rizki

Beberapa nash (teks) Al-Qur'an dan Al-Hadits menunjukkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rizki dengan karunia Allah Ta'ala. Dibawah ini beberapa nash dimaksud :

[1] Apa Yang Disebutkan Allah Subhana Wa Ta'ala Tentang Nuh 'Alaihissallam Yang Berkata Kepada Kaumnya.

"Artinya : Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu', sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai". [Nuh : 10-12]

Ayat-ayat di atas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut ini dengan istighfar.

Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan firman-Nya : "Sesungghuhnya Dia adalah Maha Pengampun".

Diturunkannya hujan yang lebat oleh Allah. Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma berkata "midraaraa" adalah (hujan) yang turun dengan deras. [Shahihul Bukhari, Kitabul Tafsir, surat Nuh 8/666]

Allah akan membanyakan harta dan anak-anak, Dalam menafsirkan ayat "wayumdid kum biamwalin wabanina" Atha' berkata : Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian" [Tafsir Al-Bagawi, 4/398. Lihat pula, Tafsirul Khazin, 7/154]

Allah akan menjadikan untuknya kebun-kebun.
Allah akan menjadikan untuknya sungai-sungai.

Imam Al-Qurthubi berkata : "Dalam ayat ini, juga yang disebutkan dalam (surat Hud : 3 "Artinya : Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhamnu dan bertaubat kepada-Nya) adalah dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sarana meminta diturunkannya rizki dan hujan". [Tafsir Al-Qurthubi, 18/302. Lihat pula, Al-Iklil fis Tinbathil Tanzil, hal. 274, Fathul Qadir, 5/417]

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata :" Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya dan kalian senantiasa menta'atiNya, niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai diantara kebun-kebun itu (untuk kalian)". [Tafsir Ibnu Katsir, 4/449]

Demikianlah, dan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhuma juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah Ta'ala.

Mutharif meriwayatkan dari Asy-Sya'bi : "Bahwasanya Umar Radhiyallahu 'anhuma keluar untuk memohon hujan bersama orang banyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, 'Aku tidak mendengar Anda memohon hujan'. Maka ia menjawab, 'Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih[1] langit yang dengannya diharapkan bakal turun hujan. Lalu beliau membaca ayat.

"Artinya : Mohonlah ampun kepada Tuhamu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat".[Nuh : 10-11]. [Tafsir Al-Khazin, 7/154]    


Fote Note
[1] Majadih bentuk tunggalnya adalah majdah yakni salah satu jenis bintang yang menurut bangsa Arab merupakan bintang (yang jika muncul) menunjukkan hujan akan turun. Maka Umar Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikan istighfar sama dengan bintang-bintang tersebut, suatu bentuk komunikasi melalui apa yang mereka ketahui. Dan sebelumnya mereka memang menganggap bahwa adanya bintang tersebut pertanda akan turun hujan, dan bukan berarti Umar berpendapat bahwa turunnya hujan karena bintang-bintang tersebut. [Tafsir Al-Khazin, 7/154]
ADAP KETIKA BERDO'A


2. Berdoa
لايكن تأخر امد العطاء مع الإلحاح موجبا ليأسك فهو ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك لافيما تختاره لنفسك وفي الوقت الذي يريد لا في الوفت الذي لاتريد
"Janganlah ditangguhkannya pemberian Allah padahal engkau telah memintanya dengan sangat menjadi penyebab keputus-asaanmu.karena Allah menanggung ijabah do'amu dalam bingkai pilihan-NYA bukan dalam bingkai pilihanmu.dan pada waktu yang di tentukan-NYA bukan pada waktu yang engkau tentukan"

Setelah seorang hamba melakukan asbab-asbab dan meninggalkan aturan-aturan serta bertawakkal kepada Allah swt atas hasil-hasil asbab yang dia lakukan, maka dia dituntut untuk berdo'a kepada Allah swt. Ini merupakan bukti bahwa dia adalah mahluk yang butuh kepada Khaliq-nya. Terkadang ada orang yang sudah berdo'a dengan sungguh-sungguh namun dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan dalam do'anya. Sehingga dia menyangka bahwa Allah tidak menepati janjinya. Prasangka ini merupakan kesalahan yang sangat fatal dan tidak bisa ditolelir lagi. Hal ini tak lain karena mayoritas orang hanya meminta dengan mulutnya tanpa memahami makna dari do'a dan syarat-syaratnya.
Meminta (thalab) belum bisa di katakan do'a, karena diantara do'a dan thalab terdapat perbedaan yang sangat besar. Thalab adalah sifat dari suatu lafadz yang diucapkan oleh orang yang meminta. Sedangkan doa adalah suatu ibarat tentang keadaan dan perasaan hati orang yang meminta.
Sebelum berdo'a seorang hamba harus mengetahui persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi agar do'anya bisa dikabulkan. Oleh karena itu, dia harus mengetahui dua persyaratan sebagai berikut:
1.Sadarnya hati, rendah diri dan tawadlu' di hadapan Allah swt ketika berdo'a.
Apabila hati belum sadar dan belum ada perasaan rendah diri serta tawadlu' kepada Allah swt, sedangkan mulut hanya mengucapkan do'a dengan kalimat-kalimat yang telah di hafalkan (padahal hatinya lupa dan pikirannya melayang), maka permintaan ini belum bisa dikatakan do'a melainkan hanya sebuah thalab. Dalam perspektif lain hanya disebut do'a secara lughawi (bahasa) yakni do'a yang dikehendaki oleh ahli lughat Arab ketika berbicara tentang kalam khabar dan kalam insya'. Oleh karena itu, ketika seseorang berdo'a dengan hati yang tertutup dan tidak ada rasa tawadlu' maka bagaimana mungkin do'a tersebut dikabulkan?
Fenomena lain yang banyak dijumpai adalah seseorang yang sedang memiliki impian-impian dan harapan-harapan duniawi. Dia yakin bahwa impian-impian tersebut akan terwujud ketika dia berdo'a dengan do'a-do'a khusus. Maka dia pun berusaha mencari do'a-do'a tersebut dari kitab-kitab para ulama, para santri dan sebagainya. Setelah dia menemukannya maka dia akan menghafalkannya. Do'a tersebut dia ucapkan berkali-kali, berhari- hari bahkan sampai berminggu-minggu padahal hatinya masih kosong, berpaling dari perintah-perintah dan wasiat-wasiat Allah swt. Akhirya setelah menunggu sekian lama, teryata tidak ada satupun permintaannya yang dikabulkan oleh Allah swt. Akibatnya, diapun mengklaim bahwa Allah swt tidak menepati janjinya. Ini adalah salah satu kebodohan, karena dia tidak mengetahui makna do'a yang sebenarnya.
2.Orang yang berdo'a harus bertaubat dengan taubat nasuha dari semua yang pernah ia lakukan dan menjadikan taubat ini sebagai penolong do'anya.
Orang yang meminta kepada Allah swt, padahal dia belum bertaubat dan masih melakukan maksiat adalah orang yang tidak sehat akalnya dan pasti do'anya tidak akan dikabulkan.
Hal ini bisa kita analogikan dengan keadaan yang banyak kita jumpai di masyarakat. Contoh kecilnya adalah sebagai berikut: Ada seseorang yang mengajukan proposal dan meminta bantuan kepada salah satu pejabat yang ada di kotanya, padahal orang tersebut masih memiliki permusuhan dengan sang pejabat. Bila dia langsung mengajukan proposal dan meminta bantuan tanpa meminta maaf terlebih dahulu, pasti sang pejabat tidak akan menyetujui proposal dan permintaaanya.
Ini adalah contoh kecil hubungan yang terjadi diantara sesama manusia yang mana status mereka adalah mahluk Allah swt. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi antara hamba yang hina dengan Dzat yang' menguasai dan mengaturnya ?
Allah swt telah memerintah hamba-Nya untuk tidak mendustakan-Nya tetapi dia tidak memenuhi perintah tersebut. Lalu Allah swt menyuruhnya untuk bertaubat, namun dia juga tidak mau bertaubat, dalam keadaan seperti ini dia meminta kepada Allah swt, maka tidak salah jika Allah swt tidak mengabulkan do'anya. Akhirya dia mengklaim bahwa Allah swt tidak memenuhi janji-Nya. Hamba seperti ini adalah hamba yang tidak berakal dan tidak memiliki adab terhadap sang khaliq, sebab permintaan yang dia ajukan hanyalah thalab dan tidak bisa dikatakan do'a.
Seseorang yang sudah melakukan 2 (dua) syarat taubat di atas, maka ketika dia berdo'a untuk dirinya sendiri pasti do'anya akan di kabulkan. Namun ketika dia berdo'a untuk masyarakat banyak, maka seringkali do'anya tidak dikabulkan. Hal ini dikarenakan ketika dia berdo'a untuk dirinya sendiri maka sangat mudah baginya untuk bertaubat dan berhenti melakukan maksiat. Namun ketika dia berdo'a untuk masyarakat banyak maka syarat ini sulit untuk diwujudkan, karena di dalam masyarakat masih terdapat orang-orang yang belum bertaubat. Sedangkan terkabulnya do'a untuk masyarakat itu tergantung pada taubatnya orang yang berdo'a dan taubatnya masyarakat yang di do'akan.
Maka dari itu jika seseorang berdo'a untuk masyarakat agar Allah menghilangkan kesusahan dan kemiskinan yang menimpa mereka hendaknya juga mengingatkan agar mereka bertaubat dari dosa-dosanya. Bila mereka bisa bertaubat dengan taubat nasuha, maka do 'a pasti akan terkabulkan. Dan sebaliknya bila mereka belum bisa bertaubat dengan nasuha, maka janganlah berharap do'anya akan dikabulkan.
Ketika syarat-syarat do'a di atas sudah dipenuhi maka Allah swt pasti akan mengabulkan do 'a tersebut. Tetapi jangan menyangka bahwa terkabulnya do'a (istijabah) itu sama persis dengan apa yang diharapkan. Karena istijabah yang dijanjikan oleh Allah swt kepada hambanya itu memiliki makna yang lebih luas dari apa yang diharapkan.
Makna Istijabah adalah Allah swt mewujudkan tujuan dari permintaan seseorang dan bukan berarti tujuan tersebut bentuknya sama persis dengan apa yang diharapkan. Contohnya ada seseorang yang meminta suatu pekerjaan kepada Allah swt karena dia menyangka bahwa pekerjaan tersebut bisa menyampaikan tujuan dan menjadi hal yang terbaik baginya. Akan tetapi Allah swt mengetahui bahwa pekerjaan yang dia inginkan itu tidak akan mendatangkan kebaikan bahkan bisa menyebabkan kejelekan. Lalu Allah swt mengganti pekerjaan tersebut dengan hal lain yang lebih baik dan bisa menyampaikan pada tujuan yang dia harapkan.
Allah swt. berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui."
(QS. al-Baqarah [02]: 216)
Makna ini diisyaratkan oleh Ibn 'athaillah di dalam hikmahnya:
فهو ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك لافيما تختاره لنفسك
Artinya: "Karena Allah pasti akan mengabulkan do'amu sesuai dengan kehendak- Nya, bukan sesuai dengan keinginanmu."
Bila kita amati, hal-hal seperti ini banyak terjadi di kehidupan kita. Banyak orang yang mengharapkan suatu pekerjaan dan menyangka bahwa pekerjaan tersebut bisa mewujudkan impian-impian dan cita-citanya. Sehingga diapun berdo'a kepada Allah agar memberikan pekerjaan tersebut. Namun setelah meminta dengan waktu yang lama ternyata yang dia harapkan tidak kunjung tiba, sampai-sampai dia menyangka bahwa Allah swt tidak mengabulkan do'anya. Tetapi pada akhirnya Allah swt menciptakan asbab-asbab lain yang bisa menyampaikan kepada cita-citanya. Ketika dia berfikir dan mengamati asbab-asbab tersebut maka dia tahu bahwa asbab-asbab itu lebih baik dari pada pekerjaan yang dia inginkan sehingga akhirya dia memuji Allah swt atas nikmat tersebut. Nikmat ini adalah anugerah yang besar dari Allah swt dan merupakan sebuah keajaiban, karena sebelumnya dia memandang bahwa perkara yang dia harapkan itu adalah yang terbaik. Namun pada hakikatnya perkara tersebut berakibat buruk dan akhirya diganti oleh Allah swt dengan hal yang lebih baik dan berguna baginya.
Sebuah kesalahan lagi yang terjadi pada sebagian orang adalah putus asa di saat berdo'a. Ketika seseorang sudah berdo'a dan memenuhi syarat-syaratnya, namun setelah menunggu beberapa minggu do'anya tidak juga dikabulkan. Maka hal ini menyebabkan dirinya berputus asa untuk berdo'a. Sehingga hati kecilnya berkata:"Aku sudah berdo'a dengan sungguh-sungguh namun belum juga dikabulkan.".
Ini adalah sebuah kebodohan yang menyelimuti kebanyakan orang yang ditimbulkan oleh rasa sangat senang pada impian-impian dan harapan-harapan yang mereka cita-citakan.
Bentuk kesalahan ini terjadi karena mereka menyangka bahwa do'a yang telah diperintahkan oleh Allah swt adalah sebagai wasilah (alat) untuk sampai pada ghayah (tujuan). Jadi do'a hanya dia gunakan ketika membutuhkan sesuatu atau tertimpa musibah. Dan bila hajatnya telah dipenuhi atau musibahnya telah hilang, maka dia tidak butuh berdo'a lagi.
Asumsi yang keliru ini akan membawa seseorang dalam kesedihan ketika dia telah berdo'a dan dalam waktu yang dia harapkan tenyata do'anya belum dikabulkan. Sehingga dia yakin bahwa do'a yang telah dia ucapkan berkali-kali tidak ada faedahnya sama sekali. Hal inilah yang menyebabkan dia putus asa dalam berdo'a. Ini semua terjadi karena dia memandang bahwa do'a hanyalah sebatas wasilah. Padahal sebenamya esensi dari do'a adalah sebuah ghoyah tersendiri.
Manusia adalah seorang hamba yang dimiliki oleh Allah swt. Oleh karena itu, setiap detiknya pasti dia membutuhkan Tuhannya dalam menghadapi semua problem kehidupan yang bermacam-macam. Di antara tugas hamba yang terpenting adalah memperlihatkan 'ubudiyyahnya kepada Allah swt. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara membuktikan bahwa dia sangat butuh kepada Allah dan dengan memperlihatkan bahwa kehidupannya, kebahagiaannya itu tergantung pada penjagaan Allah swt. Perwujudan ubudiyyah ini biasa dilakukan dengan berdo' a baik dia berasumsi bahwa do' anya akan berpengaruh ataupun tidak. Allah swt berfirman:
وقال ربكم ادعوني استجب لكم. ان الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين
Artinya: "Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS. Al-Mu'min [40]: 60)
Ayat tersebut mengandung perintah kepada manusia agar memiliki sifat 'ubudiyyah kepada Allah swt, yaitu pada kalimat أدعوني Perintah ini adalah perintah yang mutlak tanpa ada qayyid tertentu dan tidak dihubungkan dengan syarat. Selain itu ayat di atas juga mengandung janji yang menunjukkan sifat rahmat Allah swt kepada hambanya dengan memberi anugerah yang tidak terhitung yaitu pada kalimatأستجب لكم
Antara dua hal yang dikandung ayat tersebut tidak ada hubungan yang saling mengikat. Maknanya, janji tersebut timbulnya bukanlah dari doa tetapi dari rahmat Allah swt. Namun banyak orang yang mengira bahwa ketika dia berdo'a, maka dia telah membeli istijabah. Rasulullah saw. bersabda:
عن أبي هريرة أن رسول الله صلي الله عليه وسلم قال : يستجاب لأحدكم مالم يعجل فيقول قد دعوت فلم يستجب لي
Artinya:"Salah satu diantara kalian pasti dikabulkan do'anya selama tidak tergesa- gesa. Dia berkata: saya telah berdo'a tapi belum juga dikabulkan."(HR. Bukhari).
Maksud dari hadis di atas adalah seseorang akan dikabulkan do'anya selama dia tidak menyangka bahwa dia memiliki hak yang harus dipenuhi oleh Allah swt yaitu istijabah dan selama hatinya tidak berkata: "saya sudah berdo'a, tetapi kenapa saya belum memperoleh hak saya yang berupa istijabah". Jadi 'ubudiyyah (do'a) dan istijabah adalah dua perkara yang berbeda dan tidak ada keterkaitan. Do'a adalah ibadah yang wajib dilakukan oleh seorang hamba sebagai perwujudan 'ubudiyyah di hadapan Allah swt, tanpa memandang dari hasil yang dia dapat dari do'a tersebut.
Rasulullah saw. bersabda:
الدعاء هو العبادة
Artinya: "Do'a adalah ibadah." (HR Ahmad).
Sedangkan istijabah adalah anugerah dan karunia dari Allah swt, bukan hasil dari do'a.
Jalan yang wajib ditempuh oleh seorang Muslim adalah menunjukkan bahwa dia butuh kepada Allah swt dalam setiap keadaan. Dia juga harus memperlihatkan hal tersebut dengan tawadlu' dan rendah hati tanpa memandang hasil-hasil yang akan di peroleh. Dan dia harus yakin bahwa dengan sifat rahmat dan ihsan-Nya Allah akan mengabulkan do'a-do'anya.
Adapun hikmah diakhirkannya istijabah adalah melatih seorang hamba untuk memahami makna yang terkandung di dalam ayatأدعوني أستجب لكم , dan supaya mengerti bahwa istijabah itu bukanlah hal yang wajib ketika seseorang berdoa, melainkan istijabah adalah murni anugerah Allah swt. Sehingga do'a dan penantian istijabah dengan kesabaran dan tenang menjadi bagian dari ibadah. Bahkan bisa menjadi kunci dan ruh ibadah.
Rasulullah saw. bersabda:
عن انس عن النبي صلي الله عليه وسلم (( إنتظار الفرج عبادة ))
Artinya: "Menanti kelapangan adalah ibadah" (HR Ibn Abi Dunya dan al-Baihaqi).
Penjelasan di atas adalah makna dari bagian akhir dalam hikmah ini yaitu:
وفي الوقت الذي يريد لا في الوفت الذي لاتريد
Artinya: "Allah akan mengabulkan do'a pada waktu yang dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan.".
TANYA JAWAB


1.S:Bolhkah melaksanakan umroh lebih dr satu kali dlm satu kesmpatan?
J:Madzhab empat spakat bleh dg syarat kluar dr miqat makani.
2.S:Orng haji mnemukan sajadah n mngambilny kmdian pulng k negrany.Bgmn hkumny?
J:Hrs mngemblikanny k tanah harom ato mngirimkanya lewt seseorng.
3.S:Knpa d preblehkan lk2 n prempuan bcampur waktu thowaf?
J:Sbb hajat n adanya dlorurat.
4.S:Bgmn hkum orang sumpah tdk akan umrah lagi di lain waktu?
J:Dia hrs mmbayar kaffarah atas sumpahnya n melksanakan umrah.
5.S:Apakah ktika seorang istri yg kaya bleh membiayai haji n umroh suaminya?
J:Boleh sbb istri bebas atas hartanya sndiri.
6.S:Lebih utama mana meng-ulang2 haji ato mmbri makan fakir mskin?
J:Kalo hajinya seperti rekreasi maka lbh utama mmbri mkn fakir miskin.
7.S:Bolekah brangkat haji dg visa kerja?
J:Boleh n hajinya sah.
8.S:Bgmn orang yg tdk mampu mlaksanakan tawaf wada' ?
J:Hrs byr dam n menyemblih d makkah.
9.S:Apkah kcmata n arloji bsa mmbatalkn haji?
J:Menurut syafi'iah tdk membatalkan ihram.
10.S:Hrskah wanita dlm haji memakai pakaian putih ato hitam?
J:Tidak,tapi yg lebih utama mmakai warna putih.
11.S:Bolehkah sseorang haji n umrah sedangkan ia masih punya tanggungan hutang?
J:Boleh
12.S:Ssorng stlh towf baru thu bhwsany ia blm wdlu sedng ia telh
mlaksnkn tawaf ifdloh n wada'bgmn hkum?
J:Menrut hanafiah hrs membyr dam.
13.S:Bgmn hkmnya haji n umroh dg biaya dr anak?
J:Boleh n sah
14.S:Apkah anak kecil tawaf beserta ortunya?
J:Anak kecil mlaksanakan smua manasik bersama ortunya ato yg membopongnya.
15.S:Apakh yg hrs d lkukan sorng wnita yg ingin hji tpi wktu itu ingin
mmberi kain kafan dsb pda kponakanny yg d tinggal mati ortunya,uang
hnya ckup tuk salah satu?
J:haji
16.S:Apkah boleh mngumplkan towaf ifadah dan wada'?
J:Boleh carany jdikan akhir ksemptanmu di ka'bah thowaf
17.S:Bgmana haji yg telah d lakukan lima th silam tapi blm towaf wada'?
J:InsyaAllah d maafkan
18.S:Apkah boleh biaya hji n umrah dg diangsur?
J:Boleh
19.S:Bolehkah setlah melaksana umrah ingin melaksana umrah lagi?
J:Boleh n tdk apa2
20.S:ssorng tlah brumur 30 thn n ia mninggalkn sholt slam 15 thn,bgmn
ia mengqodloi sholtny?
J:wajb mngerjkn shlt qodlo stelh fardlu sbgaimn shlt fardlu yg
dikerjkn krn hutang Alloh lbh brhak d bayar.
21.S:Bolhkah mngrjkan sholt2 sunah d msjid?
J:Bolh n tdk pa2 melksnkannya d msjid
22.S:Apakah qunut Nazilah wajib pd stiap shlat utk mendoakan saudara kta?
J:tdak wajib
23.S:Bgmana hkum wanta mlakukn adzan utk sholt?
J:Tdk bolh n haram mlkukan adzan utk sholt, bleh Iqomat
24.S:Sahkah mmbca takbir d hari idul ftri sbagaimna d hari idul adha?
J:Tdk sah sbb tkbir idl ftri hbis masany brsamaan dg takbirotul
ikhromny imm sholt idl ftri
25.S:Bgaimna hukm org yg tdk mmbc fatihah dlm sholt jamaah?
J:Slama bkn ma'mum masbuk mka mnrut Syafiyyah tdk sah n mnrut Hanafiyyah sah
26.S:Bolhkah shlt dzuhr n ashar d kerskan bcaany?
J:Bolh n sah sohltny
27.S:Bgaimna hkum mngucapkan niat sblm takbirotul ikhrom?
J:Tdk apa2 n hal itu bsa mmbntu konsntrasi niat d wktu takbrotul ikhrom
28.S:Bgaimna hkum shlt org yg mnahn kncing, brak, n kntut?
J:Sah tp shltny mkruh
29.S:Imam bngun dr ruku' mmbca allahuakbar, apakah sunah sjud sahwi?
J:Tdk sbb ia mninggalkn sunah hai'ah
30.S:Apakah mmbatlkn shlt sambil mengingt hal2 yg negtif?
J:Shltny tdk btal ttpi wjib mengingt keagungn Allah dlm shlt
31.S:Apakah ada ksunahan hukm shlt Qobliyah jum't?
J:Ya, ada ksunhan mlaksankany
32.S:Bolhkah mlakukan shlt istikhoroh utk org lain?
J:Boleh
33.S:Bgaimna hkum shlt diatas alas yg terdpt bnyak gambr?
J:Makruh
34.S:Bgaimna hkum shlt memakai pakaian yg bnyak gmbr?
J:Makruh
35.S:Sahkah shlt org brmadzhab Hnafi berma'mum pd imam bermadzhab Syafi'i?
J:Sah demikian jg sbalikny
36.S:Apa hkum qiyamul lail dgn berjama'ah selain d bln romadlon?
J:Bolh tp tdk mndpat ksunahan jama'ah
37.S:Bgaimna cara khusyu' dlm shlt?
J:biyasakn berdzikir kpda Allah d luar shlt
38.S:Bolehkah menggantikan sholtnya orang lain?
J:tdk boleh
39.S:Blehkah imam sholt membca alqur'an yg d buka d hdapanya?
J:Boleh menurut syafi'iah
40.S:Apakah omong2 dlm msjid dpt mnghapus kebgusan?
J:Bicara dlm msjid makruh
41.S:Bgaimna hkmnya sholt dg mnahan air kencing?
J:Makruh
42.S:Apkah mkmum bca samiAllahuliman hamidah?
J:Ya
43.S:Bgaimna hkmnya mninggalkn sholt tarowih ?
J:Orang yg mninggalkny mka mninggalkn bnyak kbagusan
44.S: Bgaimana sholt orang yg nahan kentut?
J:sah
45.S:Sahkah sholt orang yg sujd dg mnahan alqur'an d tnganny?
J:sah
46.S:Blehkah sholt dhuha dg jama'ah ?
J:Boleh
47.S:Dmanakah letak tngan ktika sholt ?
J:D bawah dada atas pusar
48.S:Blehkah sholt d dpan imam?
J:tdk bleh menurut syafi'iah bleh menurut selainny
49.S:Blehkah mnaruh anak kcil d depanku ktika sholt ?
J:Boleh
50.S:Apkah orang yg epilepsi wjib mengodloi sholt?
wajib



Senin, 07 Mei 2012


الذين آمنوا وعملوا الصالحات
الذين يقيمون الصلاة ويؤتون الزكاة

Kenapa dalam quran setiap ada sholat disertakan zakat,shodaqah,dan infaq?

Dalam al quran Hampir setiap ada kata sholat pasti ada infaq.
sholat adalah lambang dari hubungan baik dengan allah sebagai tuhan (habl min allah).
zakat adalah lambang dari hubungan baik dengan manusia (habl minan naas).
Jadi kita jangan sampai memisahkan keduanya.dengan kata lain: alamat dan tanda amal dan ibadah kita baik dan diterima oleh allah adalah kalau hubungan kita baik dengan sesama.
Maka kalau kita rajin sholat, puasa, baca quran tapi kita juga rajin bertengkar, menggunjing maka amal kita tidak baik, Kita melakukan amal tersebut jauh dari yang diperintahkan allah .
Eronisnya bangsa indonesia bukan cuma memisahkan antara sholat dan zakat tapi justru menentangnya.kalau di quran ada sholat pasti ada zakat, tapi di indonesia ada sholat bukan ada zakat tapi ada koropsi.innalillah wa inna ilaihi rojiun.